<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Coretanku</title>
	<atom:link href="http://www.eddy.web.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.eddy.web.id</link>
	<description>Coretan tuk Mencoreng &#34;Putihnya&#34; Dunia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Jul 2010 15:18:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Benarkah buah kalo jatuh ga jauh dari pohon ?</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/353</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/353#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 15:12:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Life]]></category>
		<category><![CDATA[My Stupid Brain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[
Seorang teman di FB menuliskan
katanya mamanya itu jg gatel,&#8230;buah emang jatoh,gak jauh dr pohon
Sebuah berita heboh artis mencium pengusaha yang masih beristri dan belum selesai proses cerainya menimbulkan pernyataan diatas. Aku bukan ingin menuliskan mengenai gosip artis itu. Sudah banyak media yang menuliskan.
Sudah tertulis didalam masyarakat kita bahwa buah itu kalau jatuh ga jauh dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/07/buah.jpg"><img class="size-medium wp-image-355 aligncenter" title="buah jatuh" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/07/buah-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Seorang teman di FB menuliskan</p>
<blockquote><p><strong>katanya mamanya itu jg gatel,&#8230;buah emang jatoh,gak jauh dr pohon</strong></p></blockquote>
<p>Sebuah berita heboh artis mencium pengusaha yang masih beristri dan belum selesai proses cerainya menimbulkan pernyataan diatas. Aku bukan ingin menuliskan mengenai gosip artis itu. Sudah banyak media yang menuliskan.</p>
<p>Sudah tertulis didalam masyarakat kita bahwa buah itu kalau jatuh ga jauh dari pohonnya. Kalau anaknya bajingan diturut keatas ternyata bapak atau ibunya juga bajingan. Kalau anaknya mata keranjang, runut punya runut ternyata bapak / ibunya juga doyan maen perempuan / laki lain. Seakan semua kejelekan si anak itu emang kutukan turunan.</p>
<p>Bahkan dalam masyarakat Jawa dipercayai kalo cari pasangan hidup itu liat bibit, bobot dan bebet. Terutama bibit, adalah anaknya siapa. Siapa orang tuanya. Dalam strata mana. Kegilaan tingkat berapa dan sebagainya.</p>
<p>Lalu apakah memang akan selalu seperti itu ?</p>
<p>Aku yakin akan ada selalu faktor-faktor pengubah yang kuat. Buah kalau jatuh memang tidak jauh dari pohon. Tapi kalau pohon ditanam ditanah yang miring, buah pasti akan menggelinding ke bawah.</p>
<p>Akan ada banyak faktor-faktor yang menjadi si tanah miring tersebut. Entah itu lingkungan yang sehat, teman yang baik ataupun perhatian dari sekitarnya. Jangankan jatuh ga jauh dari pohon, <a href="http://gugling.com/aneh-pohon-nangka-yang-berbuah-pisang.html" target="_blank">pohon Nangka berbuah pisang</a> aja ada.</p>
<p>Ada banyak faktor, jangan hanya menilai seseorang dari siapa bapak ibunya. Karena tidak sedikit juga contoh yang mana orang tuanya baik-baik, anaknya jadi berandalan. Orang tuanya keduanya adalah seorang pemimpin agama tapi anaknya amburadul berbuat hal memalukan.</p>
<p>Jadi benarkah buah kalo jatuh ga jauh dari pohon ? Tergantung dimana pohon itu ditanam dan jenis apa buahnya <img src='http://www.eddy.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">katanya mamanya itu jg gatel,&#8230;buah emang  jatoh,gak jauh dr pohon<abbr class="timestamp" title="Wednesday, July 21, 2010 at 9:37pm">9 minutes ago</abbr> · <span class="comment_liking_1002357"><button class="stat_elem as_link  comment_like_1002357" title="Like this comment"><span class="default_message">Like</span></button></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/353/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Would the Wood become a Gold ..</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/344</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/344#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 23:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[21 Mei 2005 kita mengucapkan janji tuk tetap bersama selamanya sampai maut memisahkan .. 5 tahun sudah kita arungi bersama biduk rumah tangga ini. Begitu banyak kejadian yang terjadi. Ada suka dan duka. Ada tawa dan tangis. Ada kecerian dan kesedihan yang terjadi 5 tahun terakhir ini.
Dan detik ini dengan penuh syukur dan pujian, aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/05/5th.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-345" title="5th" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/05/5th.jpg" alt="" width="247" height="269" /></a>21 Mei 2005 kita mengucapkan janji tuk tetap bersama selamanya sampai maut memisahkan .. 5 tahun sudah kita arungi bersama biduk rumah tangga ini. Begitu banyak kejadian yang terjadi. Ada suka dan duka. Ada tawa dan tangis. Ada kecerian dan kesedihan yang terjadi 5 tahun terakhir ini.</p>
<p><strong>Dan detik ini dengan penuh syukur dan pujian, aku berterimakasih kepada Tuhan, semua hal itu kualami bersama dengan mu.</strong></p>
<p>Ku haturkan syukurku karena Tuhan mengirimkan mu untuk menemani hari-hariku ..<br />
Ku panjatkan doaku untuk kebersamaan kita di hari-hari yang akan datang ..</p>
<p>Tahun demi tahun ada begitu banyak berkat dalam keluarga ini.</p>
<p>21 Mei 2010, Sekarang kita berdiri berdua disini, menatap semua hari yang sudah kita lalui, hanya puji syukur yang terus kukatakan karena kamu datang di sisiku.</p>
<p>I love you so much honey ..<br />
From the first year we met and today I love you more than ever.<br />
<span style="color: #ff6600;"><strong>Would the Wood become a Gold ? <span style="color: #ff0000;">YES !! Absolutely</span>.</strong></span></p>
<h1 style="text-align: center;"><span style="color: #993300;">Happy 5th Anniversary</span></h1>
<h1 style="text-align: center;"><span style="color: #993300;">I Love You, Joan</span></h1>
<p><span style="color: #993300;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/344/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hampir 5 tahun ..</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/342</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/342#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 16:44:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini benernya pengen nulis tentang 5 tahun perjalanan kita honey, tapi aku tau-tau buntu mo nulis apa. Aku coba searching blog kita dulu berdua dan ketemu lagi.
Aku baca dari awal sampai ini aku nulis baru dapat separo archived yang aku baca. Aku membaca sambil mencoba mengingat rasa dan kejadian saat aku menuliskan post-post itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam ini benernya pengen nulis tentang 5 tahun perjalanan kita honey, tapi aku tau-tau buntu mo nulis apa. Aku coba searching blog kita dulu berdua dan ketemu lagi.</p>
<p>Aku baca dari awal sampai ini aku nulis baru dapat separo archived yang aku baca. Aku membaca sambil mencoba mengingat rasa dan kejadian saat aku menuliskan post-post itu. Ada post yang kamu marah dan aku dah lupa kenapa kamu marah. Ada berbagai bentuk tulisan dan aku tertawa sendiri membaca tulisan-tulisan itu ..</p>
<p>Yang baru aja aku baca dari post 27 April 2004</p>
<blockquote><p><em>Saat kamu nanti disini ..<br />
Akan kah kamu merasa bosan .. ??</p>
<p>Saat kamu nanti disini ..<br />
Akan kah kamu merasa jenuh .. ??</p>
<p>Aku hanyalah pria yang berteman dengan sunyi ..<br />
Aku hanyalah pria yang berkawan dengan sepi ..<br />
Tak pernah ku menyentuh dunia gemerlap ..<br />
Tak pernah ku mengecap malam terkoyak pagi ..</p>
<p>Aku ..<br />
Merenung sendiri dalam gundah ..<br />
Melewati malam bersama teman setiaku ..<br />
Tidur terlelap .. menunggu pagi menjemput .. </em></p></blockquote>
<p>Aku membaca dan mengingat berbagai masalah yang kita hadapi masa-masa pacaran, berbagai gelisah dan ketakutan yang ada.</p>
<p>Sambil melihat keadaan kita sekarang, dalam hati ku mengucap syukur yang terdalam, begitu melimpah berkat yang Tuhan berikan untuk kita berdua. Dan mengenai ini aku tuliskan besok terpisah aja <img src='http://www.eddy.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/342/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Man Called Hero</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/338</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/338#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 16:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini setelah proses semua orderan, kuhabiskan nonton chanel KIX di Indovision. Film-film Mandarin lama yang diputer.  Sambil nulis ini aku nonton &#8220;A Man Called Hero&#8221; pemeran utamanya Ekin Cheng memerankan Hero Hua. Kalau ga salah film ini adaptasi dari sebuah komik silat. Film produksi tahun jebot tapi efex nya masih lebih enak diliat dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam ini setelah proses semua orderan, kuhabiskan nonton chanel KIX di Indovision. Film-film Mandarin lama yang diputer.  Sambil nulis ini aku nonton &#8220;A Man Called Hero&#8221; pemeran utamanya Ekin Cheng memerankan Hero Hua. Kalau ga salah film ini adaptasi dari sebuah komik silat. Film produksi tahun jebot tapi efex nya masih lebih enak diliat dari pada film-film produksi Indonesia baru-baru ini.</p>
<p><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/05/42-11.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-340" title="Cover" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/05/42-11.jpg" alt="" width="200" height="282" /></a>Menceritakan sebuah jagoan silat yang selalu diramalkan penuh kesialan dalam bersosialisasi. Hero Hua percaya bahwa dia dilahirkan dibawah naungan Bintang Kematian. Dan dia percaya bahwa seumur hidupnya harus menghabiskan sisa hidup sendirian atau orang-orang yang dia kasihi mati jika berada didekatnya.</p>
<p>Melihat film ini membangkitkan imaginasi dan keinginan-keinginan lama.  Tenaga dalam, terbang dan berbagai kesaktian yang ditunjukkan di film itu pernah atau bahkan aku rasa masih ingin aku miliki. Aku bukan orang yang percaya bahwa manusia diciptakan hanya seperti ini adanya. Aku percaya bahwa berbagai kekuatan dan kemampuan yang orang awam sebut sebagai superpower atau supranatural sebenarnya adalah kemampuan biasa yang terpendam saja.</p>
<p>Dengan berlatih yang benar dan tekun semua hal itu bukan mustahil bisa didapatkan. Bukan dengan sistem tanam kekuatan model perguruan-perguruan silat atau dengan bersekutu dengan mahluk selain manusia, tapi benar-benar dengan membangkitkan potensi diri.</p>
<p>Aku inget aku belajar gTummo dari tingkat basic hingga tingkat Vajra bukan demi kesehatan dan penyembuhan tapi semata karena aku ingin bisa terbang. Saat kuungkapkan alasanku, Masterku hanya tertawa dan berkata &#8220;Itu biasa. Dengan latihan dan pengenalan diri yang makin mendalam, semua alasan itu akan hilang dengan sendirinya. Kesaktian adalah bonus ..&#8221;</p>
<p>Kriya Yoga aku dalami, pun dengan alasan yang sama. Shakti. Tapi walaupun shakti itu belum datang aku sudah mendapatkan manfaat lain dari latihan-latihanku.</p>
<p>Hitung-hitung sudah 5 tahun aku meninggalkan berbagai latihan itu. Walaupun dalam titik hati terdalam aku masih belum bisa merasakan dimana kesalahan dari latihan-latihan itu, tetapi aku berusaha menghindari hal-hal yang tidak sepaham dengan ke-Kristenan-ku.</p>
<p>Diluar benar atau salahnya latihan-latihanku dipandang dari sudut agama, yang pasti latihan-latihan itu membawa hal baik yang dianjurkan oleh agama. Pengendalian emosi yang lebih baik adalah hal pertama yang bisa aku rasakan. Kepekaan rasa dan feeling yang walau sering kali aku abaikan banyak benarnya.</p>
<p>Apakah aku merindukan latihan-latihan itu .. ?  entahlah ..<br />
Apakah aku masih ingin bisa terbang ? Tentu saja. Dan bener-bener terbang sendiri bukan naik pesawat terbang atau loncat dari gedung pencakar langit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/338/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencarian</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/336</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/336#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 16:35:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Stupid Brain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Aku hanya berusaha memahami, berbagai gejolak rasa yang ada saat ini.
Seperti candu yang terus membuntutiku
Susah sekali ku lepaskan semua keinginan ini ..
Sekuat tenaga kuberusaha mengepalkan tangan ..
Berusaha menggenggam kekuatan yang tak terbayangkan ..
Berusaha menahan kegilaan kuhantamkan semua yang ada
Berusaha menghempaskan semua penghalang
Saat semua penghalang kuhancurkan ..
Saat kumenatap kemenangan ..
Apa yang kurasakan ..
Hanya keinginan untuk mengulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku hanya berusaha memahami, berbagai gejolak rasa yang ada saat ini.<br />
Seperti candu yang terus membuntutiku<br />
Susah sekali ku lepaskan semua keinginan ini ..</p>
<p>Sekuat tenaga kuberusaha mengepalkan tangan ..<br />
Berusaha menggenggam kekuatan yang tak terbayangkan ..</p>
<p>Berusaha menahan kegilaan kuhantamkan semua yang ada<br />
Berusaha menghempaskan semua penghalang</p>
<p>Saat semua penghalang kuhancurkan ..<br />
Saat kumenatap kemenangan ..</p>
<p>Apa yang kurasakan ..<br />
Hanya keinginan untuk mengulang semua ..<br />
Hanya sebuah pencarian yang tak kunjung padam ..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/336/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/330</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/330#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 08:55:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[Prakata : Aku mencari sebuah dokumen dibackup harddiskku yang sudah lama banget. Backup-backup sejak tahun 2005. Ga sengaja menemukan catatan cerita ini lagi. Cerita yang bagus untuk dibaca. Sebuah cerita terjemahan dari luar negeri.
Cerita :
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prakata : Aku mencari sebuah dokumen dibackup harddiskku yang sudah lama banget. Backup-backup sejak tahun 2005. Ga sengaja menemukan catatan cerita ini lagi. Cerita yang bagus untuk dibaca. Sebuah cerita terjemahan dari luar negeri.</p>
<p>Cerita :</p>
<p>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga  tahun lebih muda  dariku.</p>
<p>Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Siapa yang mencuri uang itu?&#8221;</p></blockquote>
<p>Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Baiklah, kalau begitu, kalianberdua layak dipukul!&#8221;</p></blockquote>
<p>Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Ayah, aku yang melakukannya!&#8221;</p></blockquote>
<p>Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!&#8221;</p></blockquote>
<p>Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan<br />
berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.</p>
<p><strong>Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11</strong>.</p>
<p>Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik&#8230;hasil yang begitu baik&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas,</p>
<blockquote><p>&#8220;Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?&#8221;</p></blockquote>
<p>Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti aku mesti mengemis di jalanan aku akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!&#8221;</p></blockquote>
<p>Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.</p>
<p>Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan<br />
sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun<br />
itu, <strong>adikku berusia 17 tahun. Aku 20.</strong></p>
<p>Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di<br />
lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!&#8221;</p></blockquote>
<p>Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor<br />
tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,</p>
<blockquote><p>&#8220;Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?&#8221;</p></blockquote>
<p>Dia menjawab, tersenyum,</p>
<blockquote><p>&#8220;Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam<br />
kata-kataku,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.  Tahun itu,<br />
<strong>ia berusia 20. Aku 23</strong>.</p>
<p>Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.</p>
<blockquote><p>&#8220;Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!&#8221;</p></blockquote>
<p>Tetapi katanya, sambil tersenyum,</p>
<blockquote><p>&#8220;Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Apakah itu sakit?&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku menanyakannya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, <strong>adikku 23. Aku berusia 26</strong>.</p>
<p>Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.&#8221;</p></blockquote>
<p>Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.</p>
<p>Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya  menggerutu,</p>
<blockquote><p>&#8220;Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?&#8221;</p></blockquote>
<p>Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Pikirkan kakak ipar&#8211;ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?&#8221;</p></blockquote>
<p>Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Mengapa membicarakan masa lalu?&#8221;</p></blockquote>
<p>Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, <strong>ia berusia 26 dan aku 29</strong>.</p>
<p>Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,</p>
<blockquote><p>&#8220;Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?&#8221;</p></blockquote>
<p>Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,</p>
<blockquote><p>&#8220;<strong>Kakakku</strong>.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.</p>
<blockquote><p>&#8220;Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah itu berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,</p>
<blockquote><p>&#8220;Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/330/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari yang Sempurna ..</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/325</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/325#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 16:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Dua orang sahabat setelah lama tidak bersua, bertemu kembali. Sambil ngobrol di sebuah cafe mereka melepas rindu. Topik awal sih tentang nostalgia jaman sekolah  dulu yang kemudian berlanjut dengan kehidupan mereka  masing-masing saat ini
“Mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?”
tanya yang seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih membujang.
“Sejujurnya sampai saat ini aku terus mencari wanita yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua orang sahabat setelah lama tidak bersua, bertemu kembali. Sambil ngobrol di sebuah cafe mereka melepas rindu. Topik awal sih tentang nostalgia jaman sekolah  dulu yang kemudian berlanjut dengan kehidupan mereka  masing-masing saat ini</p>
<blockquote><p>“Mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?”</p></blockquote>
<p>tanya yang seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih membujang.</p>
<blockquote><p>“Sejujurnya sampai saat ini aku terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya sampai saat ini aku masih melajang. Dulu sih di Bandung aku bertemu dengan seorang gadis cantik yang amat pintar . Dan kemudian aku berpikir inilah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku, namun ternyata selama masa pacaran aku merasa tertekan dengan kesombongannya, dan akhirnya hubungan kami putus sampai di situ.”</p></blockquote>
<blockquote><p>“Kemudian di Jakarta aku menemukan sosok wanita  rupawan nan ramah dan dermawan. Hatiku bergetar  dibuatnya pada saat pandangan pertama, inilah wanita ideal bagiku. Namun belakangan baru ketahuan kalau  dia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.”</p></blockquote>
<blockquote><p>“Aku terus berusaha dalam pencarianku, namun  selalu saja kutemukan kelemahan dan kekurangan pada  setiap wanita yang kutaksir.<br />
Hingga suatu hari aku  mendapati seorang wanita yang selama ini aku dambakan, ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan dan suka humor. Aku pikir inilah dia pendamping hidup yang dikirim Tuhan untukku.”</p></blockquote>
<p>“Lantas ??” sergah temannya yang sedari tadi  mendengarkan,<br />
“Apa yang terjadi? Mengapa kamu  tidak segera meminangnya?”</p>
<p>Teman yang ditanya ini diam sesaat, suasana menjadi hening.<br />
Akhirnya dengan suara lirih si Bujangan ini  menjawab,</p>
<blockquote><p>”Baru belakangan aku ketahui bahwa diapun sedang mencari sosok pria yang sempurna…</p></blockquote>
<p>Oleh karena itu teman &#8230;&#8230;<br />
Jangan suka mengkoreksi org laen&#8230;..<br />
lebih baik selalu memperbaiki diri sendiri&#8230;.</p>
<p>Jangan suka menuntut&#8230;.<br />
karena diri kita pun tidak sempurna&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/325/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimanakah letak kebahagiaan itu ?</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/321</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/321#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 00:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Menurut kamu dimana letak kebahagiaan itu ?
Seorang petani &#38; istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan, lewatlah sebuah motor di depan mereka, berkatalah petani ini pada istrinya
&#8220;Lihatlah bu,betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah, tidak seperti kita yang harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut kamu dimana letak kebahagiaan itu ?</p>
<p>Seorang petani &amp; istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan, lewatlah sebuah motor di depan mereka, berkatalah petani ini pada istrinya</p>
<blockquote><p>&#8220;Lihatlah bu,betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah, tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah&#8221;.</p></blockquote>
<p>Sementara itu pengendara sepeda motor &amp; istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan melihat sebuah mobil pick up lewat didepan mereka, pengendara motor itu berkata kepada istrinya</p>
<blockquote><p>&#8220;Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita&#8221;.</p></blockquote>
<p>Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri terjadi perbincangan ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat dihadapan mereka</p>
<blockquote><p>&#8220;Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu, mobil itu pasti nyaman di kendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok&#8221;.</p></blockquote>
<p>Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, &amp; ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya</p>
<blockquote><p>&#8220;Betapa bahagianya suami istri itu, mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini, sementara aku &amp; istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing&#8221;.</p></blockquote>
<p>Kebahagiaan tak akan pernah kita miliki jika kita hanya melihat kebahagiaan milik orang lain &amp; selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.</p>
<blockquote><p><strong>Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tau di mana kebahagiaan itu berada</strong>.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/321/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijual Sony Vaio VGN-FW35G</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/312</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/312#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 15:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Sony Vaio VGN-FW35G (Core 2 Duo P8600 Processor 2.4GHz, 3GB RAM)
Kondisi : 99% mulus dan semua fungsi 100% jalan
Umur : &#60; 1 thn, Juni 2009
Garansi : Yes
Centrino : Yes
Processor speed	: 2.4GHz
Processor : Core 2 Duo
RAM : 3GB
Hard drive : 400 GB
Optical drive : DVD writer
Graphics hardware : ATI Mobility Radeon HD3470
Diagonal screen size : 16.4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sony Vaio VGN-FW35G (Core 2 Duo P8600 Processor 2.4GHz, 3GB RAM)</strong><br />
Kondisi : <strong>99% mulus dan semua fungsi 100% jalan</strong><br />
Umur : &lt; 1 thn, Juni 2009<br />
Garansi : <strong>Yes</strong><br />
Centrino : <strong>Yes</strong><br />
Processor speed	: <strong>2.4GHz</strong><br />
Processor : <strong>Core 2 Duo</strong><br />
RAM : <strong>3GB</strong><br />
Hard drive : <strong>400 GB</strong><br />
Optical drive : <strong>DVD writer</strong><br />
Graphics hardware : <strong>ATI Mobility Radeon HD3470</strong><br />
Diagonal screen size : <strong>16.4 inch</strong><br />
Operating system : <strong>Win Vista Home Premium</strong><br />
Weight w/battery : <strong>3 kg</strong><br />
<strong>Wireless LAN, Webcam</strong></p>
<p>Harga : <span style="color: #ff0000;"><strong>Rp 10.000.000,- </strong></span>- NEGO<strong><br />
</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00052-20100413-2236.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-313" title="IMG00052-20100413-2236" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00052-20100413-2236.jpg" alt="IMG00052-20100413-2236" width="640" height="480" /></a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00053-20100413-2236.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-314" title="IMG00053-20100413-2236" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00053-20100413-2236.jpg" alt="IMG00053-20100413-2236" width="640" height="480" /></a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00054-20100413-2236.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-315" title="IMG00054-20100413-2236" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00054-20100413-2236.jpg" alt="IMG00054-20100413-2236" width="640" height="480" /></a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00055-20100413-2237.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-316" title="IMG00055-20100413-2237" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00055-20100413-2237.jpg" alt="IMG00055-20100413-2237" width="640" height="480" /></a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00056-20100413-2237.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-317" title="IMG00056-20100413-2237" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00056-20100413-2237.jpg" alt="IMG00056-20100413-2237" width="640" height="480" /></a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00057-20100413-2237.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-318" title="IMG00057-20100413-2237" src="http://www.eddy.web.id/wp-content/uploads/2010/04/IMG00057-20100413-2237.jpg" alt="IMG00057-20100413-2237" width="640" height="480" /></a><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/312/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis diatas pasir dan batu</title>
		<link>http://www.eddy.web.id/coretan/310</link>
		<comments>http://www.eddy.web.id/coretan/310#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 12:49:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Life]]></category>
		<category><![CDATA[Quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eddy.web.id/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja istriku tercinta, Joan, mengirimkan sebuah cerita yang bagus dan semoga bermanfaat untuk pencerahan kita bersama.
Ini adalah sebuah kisah tentang dua orang suami istri  yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras &#8230;
Istri  yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis diatas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru saja istriku tercinta, Joan, mengirimkan sebuah cerita yang bagus dan semoga bermanfaat untuk pencerahan kita bersama.</p>
<p>Ini adalah sebuah kisah tentang dua orang suami istri  yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras &#8230;<br />
Istri  yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis diatas pasir :</p>
<blockquote><p><strong>HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU</strong></p></blockquote>
<p>Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi.<br />
Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis disebuah batu :</p>
<blockquote><p><strong>HARI INI SUAMIKU YANG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU</strong></p></blockquote>
<p>Suami bertanya  :</p>
<blockquote><p>“<em>kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya diatas pasir dan sekarang kamu menulis diatas batu </em>?”</p></blockquote>
<p>Istrinya sambil tersenyum menjawab :</p>
<blockquote><p>“<em>ketika kau melukai hatiku, aku harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu &#8230;<br />
Dan bila sesuatu yang luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya diatas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin</em>”.</p></blockquote>
<p>Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan, Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.</p>
<p>Yang terpenting dari pelajaran diatas, adalah :  Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR &#8230; Semoga kalian smua mengerti betapa berharganya sebuah &#8220;<span style="color: #008000;"><strong>KELUARGA</strong></span>&#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eddy.web.id/coretan/310/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
