Hari ini 19 November 2009 genap 1 tahun papa dipanggil pulang kerumah Bapa di Surga.
Setahun lebih yang lalu papa sakit perut sebelah kanan depan. Hampir seminggu 2x aku anter ke Pantirapih tiap tengah malam lewat. Setelah disuntik sakitnya hilang dan kumat lagi beberapa hari kemudian. Sampai akhirnya setelah dipaksa dan mungkin sakit yang makin menjadi, papa mau melakukan check up semuanya. Dan diketahui papa punya batu empedu yang cukup besar.
Dokter bilang pada dasarnya semua orang punya batu empedu. Cara makan yang “kotor” membuat penumpukan batu itu menjadi makin besar.
Setelah doa dan usaha pengobatan non operasi tidak membawa dampak bagus, akhirnya diputuskan papa operasi. Setelah operasi keadaan sepertinya membaik. Sakitnya hilang tapi badan masih lemes pasca operasi. Tetapi bukannya semakin baik kondisinya semakin menurun. Akhirnya dengan setengah dipaksa akhirnya papa mau mondog lagi untuk perawatan intensif.
Dirumah sakit, kondisi papa semakin membaik. Dan kemudian dapat berita oma Joan meninggal dan akan segera dikuburkan di Menado. Ini saat terakhir, belum pernah ketemu oma dan kalo tidak kesana tidak akan pernah bertemu. Setelah konsultasi dengan mama & papa dan melihat kondisi papa yang makin membaik, akhirnya aku berangkat ke Menado tanggal 19 Nov 2008 pagi lewat Jakarta. Sore waktu setempat nyampai dan telp kerumah kondisi papa tidak ada masalah katanya.
Sekitar jam 9 malam aku dapat kabar kondisi papa turun. Om Jangkwang bilang aku harus segera pulang. Bingung juga cari tiket dimana. Tapi untungnya Mandala sudah bisa reservasi via telp. Tiket masih ada 2 seat untuk esok paginya. Booking dan keluar cari ATM untuk bayar dan selesai semua urusan tiket. Saat jalan balik ke hotel Akiu Lai telp, papa sudah dipanggil pulang.
Aku masih ingat apa yang aku rasakan saat itu, dan saat ini rasa itu belum bisa aku lupakan. Aku menangis malam itu dalam pelukan Joan. Sebuah rasa kehilangan yang belum pernah aku rasakan. Sebuah rasa penyesalan yang sangat dalam aku rasakan.
Adekku bilang papa sering menanyakan aku apakah aku sudah sampai di Menado atau belum di hari terakhir itu. Dan saat sore papa dapat kabar aku sudah sampai Menado, beberapa saat kemudian kondisi papa jadi makin memburuk. Adekku bilang mungkin papa ga pengen aku ngeliat dan punya bayangan terakhir tentang papa dimana keadaan papa bener-bener sakit dan ambruk. Aku ga pernah menyesal ambil keputusan untuk pergi ke Menado waktu itu. Aku hanya kecewa tidak ada disamping papa disaat terakhirnya.
Papa dan aku bukan orang yang dekat dalam artian fisik. Aku sering kali menikmati kesendirianku dan ketenanganku dalam kamarku. Jarang waktu aku habiskan untuk ngobrol ngalor ngidul dengan orang rumah, sejak dari kecil. Waktu-waktu rekreasi bersamapun seringkali malas aku ikuti bareng-bareng keluarga. Aku memilih menghabiskan waktu dirumah entah ngapain aja.
Tapi saat papa sudah ga ada disini lagi, aku mengingat semua masa-masa laluku bersama papa, aku bisa tahu dan merasakan bagaimana papa sangat sayang ma aku. Di saat sakitku dan butuh terapi, papa yang tiap pagi mengantarku ke Pantirapih untuk terapi. Dan saat-saat kemudian dimana papa masih mau antar jemput untuk kepentinganku. Bagaimana papa bekerja hanya untuk keluargaku. Dan seringkali aku denger dari pegawai dan tetangga bagaimana papaku sering membanggakanku dengan perjalanan hidupku.
Secara prestasi akademik memang aku nda punya sesuatu yang fantastis, tetapi aku nda pernah stress dan ribet dengan urusan belajar. Aku buka buku seperluku dan semua jenjang pendidikan aku lewatin dengan enteng dan kalo mo sombong aku bilang sambil tutup sebelah mata. Kerjaan juga aku sudah mulai dari sebelum aku selesai kuliah bahkan akhirnya mengganggu jadwal skripsiku.
Bukan omelan karena aku malas belajar atau karena kuliah yang nda selesai-selesai, bukan juga pujian, tetapi belakangan aku tahu banyak omongan dibelakang yang papa banggakan tentang aku ..
Ada beberapa rasa yang jujur masih ku rasakan saat ini, ada beberapa hal yang pengen kutunjukkan ke papa bahwa jerih payahnya selama ini nda sia-sia. Bahwa dulu sampai harus Jogja-Magelang tiap hari berangkat jam 5 pagi pulang jam 8 malam bukanlah sesuatu yang percuma.
Aku sudah lupa kapan terakhir aku memeluk papaku dengan erat .. tahun-tahun terakhir hanya ciuman saat hari-hari tertentu saja.
Yang kutahu saat ini, betapa aku sangat sayang ma papaku .. dan bahkan saat ini aku masih memerlukan kehadirannya disampingku ..
I miss you Pa ..
