Beberapa hari yang lalu pulang dari Gereja pagi-pagi, masih sekitar jam 07.30 an. Karena lapar akhirnya nyari makan diluar. Diputuskan makan Dimsum di sebuah resto di Jl Simanjuntak yang sudah buka dari jam 07.00 pagi .. rajin euyy.
Setelah pesan berbagai macam menu dimsum ( enak kok walaupun ga seenak Dimsum Cafe Biru di deket pasar Pathuk yang sekarang entah kemana ) akhirnya pesen minum teh manis panas . Datanglah 2 teko teh panas dan 2 buah cangkir yang membuatku cukup terheran. Dari bentuknya emang bisa disebut cangkir, tapi dari fungsionalitasnya kok buat aku pribadi ini bener-bener ga mewakili sebuah cangkir. Tapi sebagai “alat penghukum”. Kenapa disebut begitu, karena jika pegang itu cangkir, bahaya ketumpahan air panas meningkat menjadi 500% dibanding jika menggunakan cangkir biasa. Coba lihat gambarnya .. bolongan buat pegangannya kan ga ada. Jadi jempol dan telunjuk harus kuat dalam memegang tuh cangkir. Istilah kerennya “Njepit” cangkir.
Meh ngombe we kok repot ya toh ? Nak mrucut le gocekan apa ga tumpah semua ..

tumben inget Tuhan hihihihihihihihi